Rabu, 25 Maret 2020

::: Review Buku (Part 2): Seni Hidup Minimalis (Francine Jay) :::

Hallooo,,,, review buku ini sudah jadi rencana lama saya sejak tahun 2019😱😱 OMG..
Jika Anda tertarik, Anda bisa cek review sebelumnya disini yaaa 😄sempat tertunda lama dikarenakan buku yang saya punya sempat hilang (ditelan kasur) 😜dan awalnya saya pikir tidak banyak yang minat tentang tema ini, secara masyarakat Indonesia banyak yang gaya hidupnya cenderung konsumtif yaaa...Masa iya udah koleksi ini-itu mahal-mahal mau dibuang? Gak sayang??But, surprisingly terakhir cek ternyata sudah ribuan yang tampaknya kepo untuk sekadar mencoba cari tahu gimana sih cara hidup minimalis hahaha termasuk saya yang gaya-gayaan doang 😝
Ok, kita mulai saja next review-nya yaaaa...👇 WARNING!! (Cukup panjang, jika bosan silakan skip)



Sebelumnya, saya sudah bahas  bagaimana penulis mencoba untuk menanamkan mindset pada Anda terkait betapa pentingnya hidup minimalis. Selanjutnya adalah bagaimana mindset tersebut Anda tuangkan ke dalam tindakan. Penulis menyebutkan metode STREAMLINE, dimana masing-masing hurufnya menyiratkan teknik atau tahapan yang perlu dilakukan.


Start over (Mulai dari awal)
Teknik ini mengajak Anda untuk berasumsi bahwa ketika Anda membersihkan rumah dari barang-barang, anggaplah itu sebagai hari pertama Anda masuk ke rumah. Jadi, Anda tidak perlu memulai dengan mengosongkan SELURUH isi rumah. Namun, lakukan dengan perlahan dan terbagi menjadi sub-sub kegiatan. Dalam hal ini, Anda dapat memilih bagian/tempat mana dulu yang akan Anda kosongkan. Inti dari teknik ini adalah mengeluarkan semua barang dari tempat yang Anda pilih, lalu Anda akan berperan sebagai kurator untuk memutuskan barang yang mana yang paling bermanfaat bagi Anda dalam tempat tersebut. Misalnya, Anda bisa mulai dari tempat kecil seperti laci mungkin? intinya, kuras terus isi laci Anda, lalu dipilih...dipilih...dipilih....

Trash, Treasure or Transfer (Buang, Simpan atau Berikan)
Pada teknik ini, barang dibagi menjadi 3 kategori yakni buang, simpan atau berikan. Namun pada prosesnya, Anda perlu menyiapkan tempat untuk barang kategori "diputuskan nanti", jika setelah 6 bulan atau setahun Anda tidak pernah "menengok" barang tersebut, tandanya Anda perlu membuang atau menyumbangkan benda yang ada di dalamnya. Untuk barang kategori "buang" intinya adalah barang-barang yang memang sudah tidak dapat digunakan lagi, entah rusak, kadaluarsa, tidak layak diperbaiki bahkan tidak layak disumbangkan. Misalnya makanan basi, kosmetik dan obat kadaluarsa. Sementara untuk barang kategori "simpan" adalah barang yang memang Anda sukai entah karena estetika ataupun fungsi. Barang yang Anda sukai disini maksudnya ketika Anda melihatnya, Anda menikmatinya. Namun jika barang tersebut bahkan tidak Anda pajang dan Anda tidak merasa menikmati keberadaan barang itu, artinya tidak layak untuk disimpan. Misalnya, lukisan.. namun pastikan ketika Anda melihat lukisan tersebut, Anda benar-benar menikmati seni tersebut bukan hanya sekadar pengisi dinding kosong 😜. Kemudian barang kategori "berikan" adalah barang dengan kondisi masih baik namun sudah tidak bermanfaat bagi Anda. Untuk kategori ini, biasanya dibedakan lagi ke dua kategori yakni donasi dan jual. Misalnya, kardus atau koran bekas bagi Anda mungkin hanya sampah namun bagi orang lain bisa jadi bernilai lebih. 

Reason for each item (Alasan setiap barang)
Penulis menjelaskan bahwa Anda perlu memikirkan alasan mengapa barang itu layak menjadi bagian dari rumah Anda. Intinya, barang itu harus memiliki kegunaan yang positif. Dalam tahap ini Anda perlu lebih cermat, karena bisa saja barang tersebut memiliki fungsi yang positif, namun ternyata sudah ada yang mirip di rumah Anda. Selain itu, pertimbangkan juga adanya barang-barang "kembar" yang biasanya ada dalam jumlah banyak seperti klip kertas, karet gelang, peniti. Namun, pikirkan lagi bahwa Anda tidak mungkin memakai begitu banyak klip kertas, peniti atau karet gelang bersamaan bukan? Jadi, segenggam dari barang tersebut seharusnya cukup untuk kebutuhan Anda. Anda perlu mengevaluasi setiap barang terkait apa fungsinya dan seberapa sering Anda gunakan. Lebih mudahnya, penulis menjelaskan bahwa Anda dapat menerapkan hukum pareto 80/20, yakni dalam 80% waktu kita hanya menggunakan 20% semua barang yang kita miliki. 

Everything in its place (Semua barang pada tempatnya)
Penulis menyarankan agar Anda memberi tempat pada setiap barang yang Anda miliki. Sehingga barang-barang tersebut tidak akan "tercecer" atau menumpuk di dalam rumah. Namun untuk penentuan tempatnya, Anda perlu mempertimbangkan seberapa sering Anda menggunakan barang tersebut. Penulis menyebutkan adanya 3 kategori yakni inner circle, outer circle dan deep storage. Inner circle untuk menyimpan barang yang sering atau sehari-hari digunakan. Outer circle untuk barang yang frekuensi penggunaannya lebih jarang atau mudahnya digunakan seminggu atau bahkan setahun sekali. Sementara deep storage untuk barang-barang yang biasa ditaruh di luar ruangan. Ketika Anda sudah menemukan tempat untuk semua barang Anda, tugas selanjutnya adalah mengembalikan setiap barang ke tempatnya semula jika sudah selesai digunakan. 

All surfaces clear (Semua permukaan bersih)
Terkadang memang sulit untuk membiarkan meja atau lantai terlihat kosong begitu saja. Namun penting untuk berpikir bahwa permukaan yang kosong bukanlah tempat untuk menyimpan barang. Agar lebih mudah, mungkin Anda dapat berpura-pura membayangkan bahwa permukaan yang kosong itu bersifat licin dan miring sehingga tidak mungkin Anda menaruh barang diatasnya. Intinya, jika ada permukaan yang seharusnya kosong namun tidak karena adanya barang, Anda perlu segera untuk mengosongkannya lagi.

Modules (Ruang)
Penulis menjelaskan bahwa Anda perlu membuat "ruang" dengan cara mengumpulkan barang dengan fungsi yang mirip ke dalam 1 wadah. Selain itu, hal ini bisa membantu Anda untuk mengetahui seberapa banyak barang yang Anda miliki sehingga dapat mencegah Anda membeli barang yang mirip di kemudian hari. Misalnya, cari semua pulpen yang ada di dalam rumah Anda kemudian masukkan ke dalam wadah untuk menjadi "ruang" alat tulis.

Limits (Batas)
Terapkan batas untuk barang-barang Anda. Misalkan, Anda hanya memiliki 1 rak buku atau 1 tempat dvd maka batasi barang-barang Anda agar hanya cukup di dalam wadah yang Anda miliki tersebut. Jangan justru menambah wadah yang sudah ada yaa..Awalnya mungkin sulit, namun ketika Anda sudah nyaman dengan memberlakukan batas, Anda bisa menerapkan batas tidak hanya terhadap barang namun juga hal lainnya seperti konsumsi, makanan dll.

If one comes in, one goes out (Satu masuk, satu keluar)
Jika Anda berniat menambah barang baru, Anda perlu mengeluarkan barang lama yang serupa. Tujuannya adalah untuk menyeimbangkan antara barang yang masuk dengan barang yang keluar. Contoh, Anda ingin membeli kemeja baru yang menurut Anda modelnya sedang trend, agar barang tidak menumpuk, Anda perlu "membuang" kemeja lama Anda yang lainnya. Akan tetapi, biasanya hal ini sulit dilakukan, karena kebanyakan ketika Anda sudah mendapatkan barang yang baru, Anda justru menyimpan barang yang lama. Bahkan, bisa jadi barang lama akan "terlihat" tidak seburuk yang Anda pikirkan seperti sebelumnya sehingga tidak "layak" untuk disingkirkan. Anda perlu banyak mendisiplinkan diri dalam hal ini.

Narrow Down (Kurangi)
Ketika Anda sudah cukup mahir "membuang" barang Anda, bukan berarti Anda sudah mencapai taraf tertinggi dalam gaya hidup minimalis. Inti dari hidup minimalis adalah Anda memiliki barang dalam jumlah yang cukup dengan kebutuhan Anda, tidak lebih dan tidak kurang. Akan tetapi, kebutuhan setiap orang berbeda-beda, bisa jadi 1 barang adalah kebutuhan primer bagi saya namun bukan bagi orang lain. Jadi, Anda lah yang perlu menentukan daftar kebutuhan barang Anda sendiri sebagai seorang minimalist, jika bukan termasuk kebutuhan primer maka buanglah barang tersebut. Hal ini tentu sulit, namun yang perlu Anda lakukan hanya bagaimana caranya mengurangi barang yang ada hingga hanya barang yang benar-benar kebutuhan Anda lah yang tersisa. Cara mudahnya, Anda hanya perlu berhenti sejenak untuk mempertimbangkan tingkat kepentingan suatu barang. Jika tidak efektif, Anda mungkin bisa memilih menyimpan barang yang bersifat multiguna. Misalnya, ponsel dengan berbagai fitur lengkap, seperti kamera, kalendar, jam, kalkulator sehingga Anda tidak perlu lagi membeli barang yang serupa dengan fitur-fitur tersebut. Atau memilih barang yang memiliki tampilan netral, misalnya sepatu hitam yang dapat Anda gunakan di berbagai kesempatan dibandingkan sepatu berwarna terang yang perlu usaha untuk mengkombinasikannya. Jika terkait dengan barang yang memiliki kenangan, Anda tidak perlu menyimpan semua barang namun cukup pilih satu barang saja. Cara lainnya adalah menjadikan barang-barang dalam bentuk digital, seperti e-book, foto, film dll.

Everyday maintenance (Perawatan setiap hari)
Ketika teknik-teknik di atas dapat Anda lakukan, bukan berarti Anda sudah selesai menerapkan gaya hidup minimalis. Namun Anda perlu menjadikan teknik-teknik itu sebagai suatu siklus. Jika ruangan Anda sudah "bersih", jangan lengah membiarkan barang-barang kembali terkumpul. Bersihkan barang di permukaan yang kosong begitu Anda melihatnya sehingga mencegah penumpukan barang. Atau jika anggota keluarga lain yang menyebabkan barang di rumah Anda tidak pada tempatnya, Anda dapat dengan tegas mengembalikan barang ke tempat semula. Sehingga anggota keluarga lain dapat mengerti  dan berpikir dua kali jika menaruh barang sembarangan.

Sekian part 2 dari review buku Francis Jay, semoga membantu Ands untuk lebih termotivasi memulai gaya hidup minimalis. Saran saya, lakukan saja secara perlahan namun konsisten karena yang kita lakukan bukan hanya merubah sekadar kegiatan namun sebuah siklus gaya hidup yang lebih bersifat long-term. Terima kasih 😁

Sumber: Jay, Francine (2018)

Minggu, 01 Maret 2020

::: Your feelings are valid: How to deal with Emotional Invalidation :::


Hasil gambar untuk invalidation illustration


Pernahkah Anda...

  • Merasa khawatir dan direspon orang lain dengan mengatakan "Jangan khawatir"
  • Merasa tersinggung oleh komentar " Baper-an"  atau  "Jangan terlalu sensitif"
  • Membuat kesalahan dan berkata pada diri sendiri " Bagaimana saya bisa sebodoh itu?"
Ya, budaya kita mengajarkan bahwa menjadi emosional adalah hal yang buruk, sehingga banyak orang menyangkal untuk mengekspresikan emosi yang justru membuat kita menjadi manusia seutuhnya. Kita hidup dalam masyarakat yang hanya menganggap perasaan fisik lebih penting dan menjadi emosional dianggap sebagai kelemahan dan ketidakdewasaan. Baper (terbawa perasaan), lebay (berlebihan) atau terlalu sensitif, sadarkah Anda bahwa saat ini banyak orang yang menggunakan istilah tersebut justru untuk memberi label pada orang yang mungkin memang sedang mengekspresikan emosi yang sebenarnya. Seringkali individu memberikan label tersebut karena mungkin tidak tahan untuk melihat emosi kuat yang muncul dari seseorang dan berusaha menyangkalnya dengan cara menyebut orang tersebut baper, lebay atau terlalu sensitif. Dalam ilmu psikologi, tindakan orang tersebut termasuk sebagai  Emotional Invalidation

Anda mungkin masih asing dengan konsep emotional invalidation. Secara harfiah, emotional invalidation adalah proses dimana individu menolak atau meminimalkan pikiran dan perasaan orang lain, sehingga pengalaman orang tersebut dianggap tidak penting, salah dan tidak dapat diterima. Hal tersebut adalah bentuk emotional abuse yang bersifat merusak, sehingga bagi orang yang menerima perlakuan tersebut akan menimbulkan keraguan pada diri sendiri.

Bagaimana emotional invalidation dapat terjadi? Seringkali orang yang melakukan emotional invalidation tidak menyadari bahwa Ia telah melakukannya. Emotional invalidation dapat terjadi bahkan ketika seseorang justru berniat untuk menghibur orang lain. Dalam hal ini, pelaku percaya bahwa Ia sedang membantu orang lain dan tidak sengaja bermaksud mempermalukan pemikiran dan perasaan orang lain. Pelaku berpikir bahwa Ia dapat membantu orang tersebut untuk merasakan hal yang berbeda (beralih dari kesedihan misalnya) dengan memaksa orang lain itu mengesampingkan emosinya saat ini. Oleh karena itu, emotional invalidation cenderung sulit dihadapi, karena pelakunya sering kali tidak sengaja dan melakukannya secara halus. 

Lalu, apakah emotional invalidation dilakukan dengan sengaja atau tidak? Bisa ya atau tidak tergantung dari motifnya. Jika seseorang melakukan emotional invalidation dengan sengaja, dapat dikatakan Ia melakukannya untuk memanipulasi atau membangun kontrol atas orang lain. Pelaku mencoba membuat mereka mempertanyakan pemikiran dan perasaannya lalu mengerahkan upaya untuk menyangkal pengalaman mereka. Sedangkan jika seseorang melakukan emotional invalidation secara tidak sengaja, bisa jadi pelaku memang tidak mampu untuk berempati atau tidak tahu bagaimana memvalidasi orang lain dan mengekspresikannya secara efektif. Biasanya, hal ini juga dikarenakan pelaku merasa tidak nyaman jika berurusan dengan emosi kuat yang muncul dari orang lain. Akan tetapi, sengaja atau tidak emotional invalidation tetaplah buruk untuk dilakukan. Hal ini karena emotional invalidation dapat menyebabkan banyak permasalahan psikologis pada individu. Emotional invalidation tidak hanya mengakibatkan adanya emotional distance, konflik, kekerasan dan gangguan dalam hubungan interpersonal namun juga bisa menyebabkan penerimanya merasa terasing, bingung, inferior, tidak berharga dan bermasalah. Individu yang mengalami emotional invalidation di masa kecil, cenderung akan menampilkan gejala depresi dan gangguan kecemasan. Hal ini berakar dari rasa harga dirinya yang menjadi rendah dan rasa takut karena penolakan. Intinya karena Ia percaya bahwa perasaannya saja tidak penting, maka dirinya pun juga dinilai tidak penting. 

Agar Anda dapat mengenali lebih jauh apakah orang lain melakukan emotional invalidation terhadap Anda, berikut ini beberapa contoh pernyataan yang termasuk emotional invalidation:

- " Itu bisa menjadi lebih buruk"/ " Aku yakin itu tidak seburuk itu" 
Pernyataan ini bertujuan meminimalkan dan meminggirkan rasa sakit seseorang dan memaksakan sifat "positif" yang justru bersifat toxic
- " Kamu seharusnya tidak merasa seperti itu"
Pernyataan ini menyampaikan keunggulan atas seseorang namun justru menyangkal pengalaman mereka dengan membuat mereka merasa kecil.
-"Lupakan saja" atau " Biarkan saja"
Pernyataan ini merupakan ekspresi yang sangat meremehkan  dan membuat orang lain merasa tertekan dan disingkirkan.
- " Aku tahu persis apa yang kamu alami"
Pernyataan ini sering kali digunakan dan merupakan cara untuk meminimalkan dan mengabaikan orang lain. Pelaku menggunakannya agar fokus perhatian kembali pada pelaku.
-" Aku tidak akan membicarakan ini denganmu"
Pernyataan ini biasa dilakukan diam-diam sehingga membuat penerima merasa bahwa perasaan maupun diri mereka sendiri tidak penting
- "Kamu terlalu sensitif"/" kamu bereaksi berlebihan"
Pernyataan ini cenderung menyalahkan bagaimana perasaan seseorang terhadap sesuatu bukannya pada orang yang mengecewakan mereka. Biasanya pernyataan ini adalah taktik menghakimi yang digunakan oleh manipulator untuk menghindari tanggung jawab atas tindakan ofensif yang telah mereka lakukan atau katakan.

Selain dalam bentuk pernyataan, emotional invalidation juga dapat berupa reaksi fisik seperti memutar bola mata, silent treatment, berjalan keluar ruangan saat Anda berbicara atau mengalihkan perhatian ke handphone.


Lalu apa yang sebaiknya Anda lakukan jika Anda  dihadapkan dengan orang yang melakukan emotional invalidation?


Pertama, Anda perlu pahami bahwa emosi muncul karena memiliki tujuan penting dan hampir selalu mengarah pada sesuatu yang perlu diakui. Emosi tidak bersifat benar atau salah, namun justru merupakan cerminan dari pengalaman batin Anda. Jadi, jika Anda menerima emotional invalidation dari orang lain, bukan berarti Anda yang salah atau tidak stabil secara emosi. Kedua, jangan mudah menerima emotional invalidation baik verbal maupun non-verbal dari orang lain. Biarkan mereka tahu dengan jelas perasaan dan emosi yang Anda rasakan. Ketiga, bersikaplah netral dan tegas serta tentukan batasan yang jelas dengan mereka. Akan tetapi, jika orang tersebut benar-benar tidak dapat diajak komunikasi, Anda dapat meninggalkan orang tersebut untuk melindungi diri Anda.

Selanjutnya, Anda dapat menggunakan cara ini apabila ada orang yang sudah terlanjur melakukan emotional invalidation kepada Anda:

- Berpegang teguh pada fakta yang ada. Ya, pelaku biasanya akan mencoba mengalihkan emosi Anda. Untuk mengembalikan fokus pada emosi yang Anda rasakan saat itu, ungkapkanlah kembali fakta yang menyebabkan munculnya emosi Anda tersebut.
- Anda dapat meminta pelaku untuk mengulang pernyataan emotional invalidation yang dilontarkannya. Hal ini dapat membantu Anda untuk memberikan "peringatan" bahwa Anda tidak setuju terhadap apa yang sedang dilakukan oleh pelaku.
- Katakan seperti apa adanya, misalnya Anda dapat memberitahu pada pelaku " Saya marah ketika Anda berbicara pada saya dengan nada seperti itu"
- Telusuri motif dari pelaku, Anda dapat langsung menanyakan tujuan "sebenarnya" Ia memberikan pernyataan emotional invalidation kepada Anda.

Emotional invalidation terjadi dimana-mana dalam masyarakat dan lebih berbahaya karena prosesnya seringkali tidak disadari. Dari mulai hubungan orang tua terhadap anaknya, kakak terhadap adik, teman ke teman, yang tadinya hanya berniat menghibur namun jika dilakukan dengan tidak benar justru mengarah ke bentuk emotional invalidation. Akan tetapi, bukan berarti Anda tidak dapat memutuskan rantai dari emotional invalidation tersebut. Oleh karena itu, penting untuk melatih kemampuan emotional validation Anda kepada orang lain. Emotional validation berarti mengakui, menerima dan memahami perasaan dan pikiran orang lain. Kita menerima pengalaman emosi orang lain tanpa harus menghakimi. Emotional validation dapat dilakukan dengan cara berempati terhadap permasalahan orang lain. Anda dapat mengkomunikasikan emosi seseorang valid tanpa menyukai emosi tersebut. Ingat, emosi itu berbeda dari perilaku. Anda tidak perlu menyetujui emosi seseorang namun berusaha melihat dari sudut pandang orang tersebut. Misalnya jika ada teman yang takut akan sesuatu, kita tidak perlu meremehkan ketakutannya tersebut namun justru menanyakan penyebab ketakutannya itu. Hindari memberikan nasihat yang tidak diminta. Anda masih dapat menanyakan pada mereka apakah mereka ingin dibantu atau tidak. Jika tidak, teruslah mendengarkan. Karena bukan tanggung jawab Anda untuk "memperbaiki" seseorang.

Konsep emotional invalidation sebenarnya adalah konsep yang sering dialami dalam kehidupan sehari-hari. Semoga penjelasan ini dapat membantu Anda untuk memahami dan mengatasi fenomena tersebut. Terima kasih :)

Hasil gambar untuk emotional invalidation quotes

Daftar Pustaka
https://www.regain.us/advice/psychology/what-is-psychological-invalidation-how-it-happens-and-its-effects/

Rabu, 25 Desember 2019

::: Self-Forgiveness: Life is too short to spend at war with yourself :::


Hasil gambar untuk self forgiveness

Saat orang lain melakukan kesalahan pada diri Anda, Anda mungkin dapat memilih untuk memaafkannya atau tidak. Akan tetapi, jika yang melakukan kesalahan adalah diri sendiri, memaafkan atau tidak bukanlah suatu pilihan. Anda tidak bisa berhenti, berpisah dan menjauh dari diri sendiri. Untuk tetap menjalin hubungan dengan diri sendiri secara positif, Anda harus memaafkan diri Anda. Akan tetapi, memaafkan diri sendiri merupakan hal yang sulit bagi sebagian orang, karena terkadang Anda akan ragu apakah diri Anda berhak mendapatkan pengampunan atau mungkin Anda tidak tahu cara memaafkan, intinya akan muncul rasa tidak enak dalam diri Anda. Namun pikirkanlah, bahwa kita semua adalah makhluk yang tidak sempurna, dan kita berhak mendapatkan pengampunan.

Lalu, apakah sebenarnya yang dimaksud dengan self-forgiveness? Enright, dkk (1996) mendefinisikan self- forgiveness sebagai keinginan untuk meninggalkan kekesalan terhadap diri sendiri dalam menghadapi kesalahan dengan cara membina kasih sayang dan murah hati terhadap diri sendiri. Jika Anda sudah memahami pentingnya konsep memaafkan diri sendiri, Anda dapat menerapkan langkah berikut untuk mulai memaafkan diri Anda sendiri.

1. Fokus pada emosi Anda
Untuk mulai memaafkan diri sendiri, hal pertama yang dapat Anda lakukan adalah mengenali dan mengakui emosi yang muncul dalam diri Anda. Misalnya ketika muncul perasaan bersalah, Anda dapat mengidentifikasi emosi apa saja yang ikut muncul dalam diri Anda pada kondisi tersebut. Apakah emosi sedih, marah, takut, iba atau yang lainnya. Pikirkan juga mengapa Anda merasakan emosi tersebut. Selanjutnya, Anda dapat mulai menanamkan pemikiran bahwa wajar jika Anda merasakan emosi tersebut namun tidak seharusnya emosi tersebut menjadi beban bagi Anda untuk melanjutkan hidup. Anda tidak akan bisa memaafkan diri Anda sendiri jika Anda tidak melepaskan emosi dan kepercayaan yang mendasarinya. 

2. Akui kesalahan Anda 
Ketika Anda sudah mampu menyadari emosi apa saja yang menghambat Anda untuk memaafkan diri Anda sendiri, hal selanjutnya cukup sulit dilakukan, Anda harus berani mengakui bahwa diri Anda telah gagal.  Anda perlu mengakui kesalahan tersebut. Hal itu mungkin terasa berat dan menakutkan, namun ketika Anda menyuarakan pikiran dan emosi Anda (terkait kesalahan Anda), Anda dapat membebaskan diri dari beban tersebut dan secara tidak langsung menanamkan dalam benak Anda konsekuensi apa yang dipelajari dari tindakan tersebut. Anda perlu menanamkan mindset bahwa kesalahan adalah bagian dari menjadi manusia, begitulah cara Anda belajar dan tumbuh. Ketika Anda mengakui emosi Anda, hargai bahwa ternyata Anda sudah cukup sadar diri dan mampu berempati bahwa Anda telah melakukan kesalahan. 

3. Pikirkan setiap kesalahan sebagai pengalaman belajar
Ingatkan diri sendiri bahwa Anda telah melakukan yang terbaik dengan segala yang Anda miliki saat itu. Pemikiran ini akan membantu Anda untuk memaafkan diri sendiri. Anda tentu tidak akan melakukan kesalahan itu bila Anda tahu hal tersebut akan menyakiti orang lain atau diri Anda kan? Bahkan jika Anda tahu bahwa tindakan Anda akan  menyebabkan kerusakan atau menyakiti orang lain, Anda tidak akan tahu seberapa besar penyesalan Anda nantinya. Pertahankan apa yang bisa Anda pelajari, tapi lepaskan masa lalu Anda. Anda perlu menerima apa yang terjadi, memahami bagaimana dan mengapa itu terjadi dan melihat semua dampaknya. Anda perlu menerima bahwa tidak ada yang dapat Anda lakukan untuk merubah masa lalu.

4. Beri diri Anda izin untuk menunda proses ini
Jika Anda masih belum mampu dan kesulitan untuk mengeluarkan pikiran dan emosi Anda, Anda dapat memvisualisasikan pikiran dan emosi Anda ke dalam "wadah". Katakan pada diri Anda bahwa Anda akan kembali ke "wadah" tersebut jika waktunya sudah tepat.

5. Berkomunikasi dengan kritik dalam diri
Menulis jurnal dapat membantu Anda untuk berkomunikasi dengan kritik dalam diri Anda. Dalam hal ini Anda dapat mengidentifikasi pola pikir apa yang menghambat Anda untuk memaafkan diri sendiri. Melalui jurnal, Anda juga dapat menulis daftar kekuatan dan keterampilan Anda, sehingga dapat Anda gunakan ketika merasa menyesal terhadap kesalahan yang Anda buat. Hal ini penting karena Anda akan cenderung memiliki pemikiran negatif terhadap diri sendiri, namun dengan mengingat bahwa masih ada hal positif dalam diri Anda, itu akan membantu untuk  menetralisir pemikiran negatif tersebut.

6. Perhatikan saat Anda berpikir kritis terhadap diri sendiri
Pikiran Anda adalah bentuk kritik terburuk dari diri Anda sendiri. Tulislah ketika kritik tersebut muncul dari dalam diri. Kemudian, tulislah respon rasional dari kritik tersebut. Hal itu akan membantu Anda untuk "melangkah" dari segala hambatan Anda selama ini untuk memaafkan diri Anda. Selain itu, terkadang alasan kita merasa bersalah, karena sesungguhnya apa yang sudah kita lakukan adalah "batas moral" kita atau tidak sejalan dengan moral kita. Sehingga dalam hal ini, secara tidak langsung Anda bisa sekaligus menentukan dengan jelas batas moral Anda berdasarkan kesalahan yang sudah Anda perbuat. 

7. Pahami apa yang Anda inginkan
Jika kesalahan yang Anda buat menyakiti orang lain, Anda perlu menentukan tindakan terbaik. Apakah Anda ingin berbicara dan meminta maaf? Apakah penting untuk berdamai dan menebus kesalahan? Anda akan lebih mudah memaafkan diri sendiri jika dapat menebus kesalahan. Pikirkan apa yang terjadi dalam hidup Anda, yang membuat Anda melakukan apa yang telah Anda lakukan. Apa kebutuhan yang Anda coba penuhi? Pengalaman apa yang akhirnya Anda miliki? Ini bukanlah alasan atau membenarkan apa yang Anda lakukan, namun jika Anda sudah mengetahui alasan apa yang mendasari Anda melakukan kesalahan tersebut, Anda akan lebih bisa menemukan cara yang lebih konstruktif untuk memenuhi kebutuhan yang sama di masa depan. 

8. Ambil saran Anda sendiri
Seringkali lebih mudah memberitahu orang lain apa yang harus dilakukan daripada mengikuti saran sendiri. Oleh karena itu, Anda dapat melakukan roleplay dengan teman Anda (jika memungkinkan) terkait kesalahan Anda dan menjadi pemberi saran. Atau tanyakan kepada diri Anda sendiri " Apa yang bisa saya lakukan untuk bisa memastikan saya tidak melakukan kesalahan yang sama lagi?". Dalam hal ini Anda dapat melakukan "Re-Do" untuk memperbaiki suatu kesalahan dengan cara yang berbeda.

9. Tunjukkan kebaikan dan kasih sayang
Jika respon Anda terhadap situasi negatif adalah mengkritik diri sendiri, inilah saatnya menunjukkan belas kasih dan kebaikan pada diri sendiri. Berikan pikiran dan tubuh Anda dari rasa bersalah dengan cara bersyukur dan berterimakasih. 

 Demikian beberapa saran yang dapat saya sampaikan untuk membantu Anda dalam mencapai self-forgiveness. Semoga membantu :)

Hasil gambar untuk self forgiveness

Daftar Pustaka


Sabtu, 09 November 2019

::: Teach People How to Treat You :::

Sebelum memulai topik kali ini, saya akan ajukan beberapa pertanyaan berikut....
  • Apakah Anda sering merasa marah atau kesal karena Anda merasa dimanfaatkan?
  • Apakah Anda pernah "melawan" nilai atau hak pribadi Anda hanya untuk menyenangkan orang lain?
  • Apakah Anda pernah merasa harus selalu "menyelamatkan" orang-orang terdekat Anda dan memperbaiki masalah mereka sepanjang waktu?
  • Apakah Anda pernah merasa buruk atau  bersalah ketika mengatakan tidak?
  • Apakah Anda memberitahu orang lain betapa Anda membenci "drama" namun kenyataannya Anda seringkali berada di dalam situasi tersebut?
  • Apakah Anda memilih diam ketika Anda diperlakukan dengan buruk?
  • Apakah Anda menghabiskan banyak waktu  membela diri untuk hal-hal yang Anda yakini bukanlah kesalahan Anda? 
Jika Anda menjawab "Ya" pada sebagian pertanyaan tersebut, bisa jadi Anda memiliki isu dalam hal

Hasil gambar untuk healthy personal boundaries



Oleh karena itu, kali ini saya akan mengajak Anda untuk bisa melindungi diri Anda sendiri dengan menerapkan Healthy Personal Boundaries. Namun sebelumnya, Anda perlu tahu dulu apa yang dimaksud dengan boundary dan bagaimana konsep tersebut dapat berpengaruh besar dalam hidup Anda.

Secara harfiah, boundary adalah segala sesuatu yang menandai batas. Anda mungkin pernah mendengar seseorang berkata "Anda baru saja melebihi batas". Nah, boundary disini menandai perbedaan antara perilaku yang tidak menyebabkan kerusakan emosional dengan perilaku yang menyebabkan kerusakan emosional. Boundary memberikan cara bagi setiap individu untuk mempertahankan identitas dan ruang pribadi mereka sendiri dalam hubungan profesional maupun pribadi. Pada dasarnya, boundary dapat membantu Anda menentukan bagaimana Anda ingin diperlakukan dan jenis interaksi apa yang ingin Anda terima dari orang lain. Semua orang berhak melindungi diri sendiri dari kerusakan emosional. Penting untuk diketahui bahwa boundary berbeda dengan psychological defenses. Jika psychological defenses berasal dari masa kanak-kanak dan bersifat unconsciously, boundary justru dibuat dengan sadar dan merupakan cara untuk melindungi diri kita dari kerusakan emosional. Lalu, apa yang dimaksud dengan Healthy Personal Boundaries? Healthy personal boundaries yakni Anda membuat batasan fisik, emosional dan mental untuk melindungi diri dari manipulasi, penggunaan, atau pelanggaran oleh orang lain. Anda  bertanggung jawab atas tindakan dan emosi Anda sendiri bukan bertanggungjawab atas tindakan dan emosi orang lain.  

But, by the way mengapa konsep boundary penting untuk dibahas? Anda tahu bahwa semua orang pasti menginginkan hidup ideal dimana masing - masing individu berintaraksi secara harmonis. Akan tetapi, tidak semua situasinya seperti itu, justru banyak dari kita yang mau tidak mau justru berinteraksi dengan orang yang tidak kooperatif atau bahkan manipulatif. Oleh karena itu, dalam hal ini penting bagi setiap individu untuk menetapkan boundary. Boundary akan bertindak sebagai filter yang memungkinkan apa yang dapat diterima dalam hidup Anda dan yang tidak dapat diterima. Selain itu, belajar untuk menetapkan boundary diperlukan untuk mempertahankan konsep diri yang positif. Jika Anda memiliki healthy personal boundaries, Anda akan mampu mengkomunikasikan harga diri Anda dan tidak akan membiarkan diri Anda didefinisikan oleh orang lain. Healthy personal boundaries membantu kita untuk menyadari bahwa setiap individu adalah unik dan memiliki emosi, kebutuhan dan preferensi yang berbeda-beda. Akan tetapi, tidak semua orang "berani"  dan mengalami kesulitan untuk menetapkan boundary. Hal ini karena ketika Anda menetapkan boundary, Anda cenderung akan dianggap "melawan" sehingga banyak orang justru bersikap pasrah ketika diperlakukan kurang hormat oleh orang lain. Oleh karena itu, disini saya akan membahas bagaimana caranya agar Anda dapat menetapkan, mempraktekkan dan mempertahankan healthy personal boundaries

a. Hal pertama yang harus Anda lakukan adalah memasang mindset bahwa diri Anda adalah seseorang yang berharga. Jika Anda memiliki mindset ini, Anda tidak akan mudah mentolerir resistensi Anda terhadap segala perlakuan yang menyebabkan kerusakan emosional. Anda akan lebih mudah menolak segala hal yang dapat menurunkan "nilai" Anda. Dalam hal ini, Anda memiliki hak dan bertanggungjawab atas cara Anda membiarkan orang lain memperlakukan Anda.

b. Setelah menyiapkan mindset, Anda perlu mengidentifikasi perilaku orang lain antara yang dapat diterima dengan yang tidak (menyebabkan ketidaknyamanan dan kesulitan). Hal ini penting, Anda tidak akan bisa menetapkan boundary yang sehat apabila Anda tidak yakin dengan posisi Anda. Identifikasi keterbatasan fisik, emosi, mental dan spiritual Anda. Pada umumnya, tanda ketika suatu  tindakan sudah melebihi boundary kita, maka perasaan yang muncul adalah ketidaknyamanan dan kebencian. Anda mungkin bisa membuat list "I hate...."

c. Anda perlu mengkomunikasikan setiap boundary Anda terhadap orang lain secara tegas dan terbuka. Dalam hal ini, jangan menganggap orang lain akan langsung menerima boundary yang Anda tetapkan. Namun Anda tetap perlu mempertahankan boundary tersebut. Biarkan orang lain tahu kapan mereka telah melewati batas, bertindak tidak patut atau tidak menghormati Anda dengan cara apapun. Misalnya, ketika ada orang yang berkata kasar pada Anda, Anda dapat memberitahu bahwa Anda tidak menyukai perkataan atau tindakannya tersebut, dan jika masih terus berlanjut, Anda bisa pergi meninggalkannya. Intinya, Anda perlu memberanikan dan "mengizinkan" diri Anda untuk menetapkan, mengkomunikasikan dan mempertahankan boundary Anda. Bahkan bila perlu, teruslah untuk mengkomunikasikan boundary Anda kepada orang lain, sehingga orang lain dapat sadar apabila boundary Anda telah dilewati.

d. Terkait dengan mengkomunikasikan boundary Anda, penting untuk mengkomunikasikannya secara asertif. Berikut beberapa kalimat yang dapat Anda gunakan:
- Katakan "Tidak", untuk melindungi diri Anda sendiri dari apa yang orang lain inginkan dari diri
   Anda
- "Saya tidak bisa melakukan itu sekarang, saya akan melakukannya nanti"
- " Saya lebih suka untuk tidak membahas ini"
- "Saya mengerti apa yang Anda inginkan, tapi itu bertentangan dengan nilai-nilai saya. Jadi saya
    tidak akan melakukannya"
- "Itu masalah pribadi yang tidak ingin saya diskusikan"
- "Ini bukan tanggung jawab Anda, saya akan mengurusnya sendiri"
- "Itu bukan urusanmu" Itu adalah respon yang benar jika dikatakan dengan lembut, tenang sambil
    tersenyum.
- "Saya sudah menjelaskan pendapat saya tentang masalah ini. Saya tidak ingin membahasnya lebih
    lanjut"
- " Saya sudah mengatakan "Tidak", dan saya tidak akan berdebat dengan Anda
    tentang hal itu"

e. Menetapkan healthy personal boundaries bisa jadi merupakan suatu keterampilan baru yang memang perlu dilatih. Jadi, Anda bisa memulainya dengan boundary yang bersifat ringan atau kecil, jika sudah terbiasa Anda bisa melanjutkannya dengan boundary yang menurut Anda lebih  berat atau menantang. 

Intinya, Anda perlu melindungi diri Anda dari apa yang dilakukan orang lain terhadap Anda dengan menyatakan konsekuensinya. Jika Anda memberitahu orang lain apa yang harus dilakukan, hal itu justru memicu konflik. Strategi yang perlu Anda lakukan adalah membuat pernyataan dimana Anda menyatakan apa yang akan Anda lakukan jika orang lain melakukan sesuatu yang bertentangan dengan preferensi Anda.  Menetapkan boundary membutuhkan keberanian, latihan dan dukungan. Jika Anda sudah memiliki healthy personal boundaries, itu berarti menolong diri Anda sendiri untuk tetap sehat dan fit secara emosional. Jika Anda sudah berhasil menolong diri Anda sendiri, Anda akan mampu menolong orang lain. Demikian pembahasan singkat tentang Healthy Personal Boundaries,  semoga membantu :)

Hasil gambar untuk healthy personal boundaries quotes
Daftar Pustaka
https://markmanson.net/boundaries
https://psychcentral.com/lib/10-way-to-build-and-preserve-better-boundaries/
https://www.essentiallifeskills.net/personalboundaries.html



Sumber Gambar:
https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&ved=2ahUKEwjM7PbNh9_lAhXMLo8KHUnCB6EQjRx6BAgBEAQ&url=https%3A%2F%2Fwww.his-story.org%2Fevent%2Ftues-boundaries-educational-class%2F&psig=AOvVaw1YpnOKn_QIjep3iYv95quY&ust=1573455163404435
https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&cad=rja&uact=8&ved=2ahUKEwjy0IOsiN_lAhWIknAKHYOXD1AQjRx6BAgBEAQ&url=%2Furl%3Fsa%3Di%26source%3Dimages%26cd%3D%26ved%3D%26url%3Dhttp%253A%252F%252Fblogs.psychcentral.com%252Fimperfect%252F2016%252F06%252Fquotes-healthy-boundaries%252F%26psig%3DAOvVaw3vmTZEZQWNes454xiQXdte%26ust%3D1573454815963199&psig=AOvVaw3vmTZEZQWNes454xiQXdte&ust=1573454815963199

Minggu, 29 September 2019

::: Self Reparenting Your Inner Child :::





Hasil gambar untuk self reparenting quotes
Topik kali ini sebenarnya sudah menarik perhatian saya bahkan sebelum saya memutuskan untuk melakukan sesi konsultasi ke psikolog. Saya memang sempat mencari cara alternatif untuk dapat menyelesaikan masalah pribadi saya, tanpa harus melibatkan "orang luar", dalam hal ini psikolog. Maka, sampailah saya pada konsep "Self-Reparenting". Konsep yang hampir sama seperti Anda datang ke psikolog untuk membantu  menyelesaikan masalah Anda. Namun mudahnya, dapat Anda lakukan sendiri. Saya pikir ini akan membantu bagi orang di luar sana yang mungkin masih menganggap tabu perihal datang ke psikolog, namun tetap ingin pulih dan tumbuh. Konsep ini juga tidak terbatas digunakan hanya pada orang yang memiliki gangguan klinis, namun jika Anda merasa bahwa Anda memiliki masalah dari masa kecil Anda dan mempengaruhi kehidupan Anda saat ini. Konsep ini bisa jadi akan sangat membantu. 

Ketika Anda menemui psikolog untuk berkonsultasi, tentu Anda bertujuan menyelesaikan masalah Anda dengan bantuan dari psikolog tersebut. Akan tetapi, pada dasarnya interaksi antara Anda dengan psikolog tidak lain adalah bentuk reparenting, yang mana seorang psikolog mengambil peran sebagai orangtua yang peduli dan dapat dipercaya sehingga klien dapat belajar seperti apa hubungan saling percaya. Adapun yang ditekankan pada self-reparenting adalah, Anda sendiri yang menjadi agen utama dari terapi, bukan si terapis/psikolog. Reparenting akan membantu Anda untuk memperbaiki konsep attachment pada diri Anda dan mengembangkan hubungan yang lebih sehat. Reparenting sendiri didasarkan pada keyakinan bahwa banyak masalah psikologis berasal dari seorang anak yang tumbuh  dengan kebutuhan "psikologis" yang tidak terpenuhi. 

Terdapat 3 aspek dari self-reparenting, yakni orang dewasa, inner child, dan orang tua. Orang dewasa disini adalah kondisi Anda saat ini, dimana Anda sudah tumbuh menjadi seorang dewasa. Inner child adalah diri Anda saat masa kanak-kanak yang teraniaya atau tersakiti. Orangtua dalam konsep self- reparenting adalah Anda sendiri yang memberikan respons tepat yang seharusnya diterima inner child dalam diri Anda sendiri. Self- reparenting adalah kondisi Anda sebagai orang dewasa yang diperlakukan kembali sebagai anak kecil untuk memuaskan dan berdamai dengan inner child dalam diri Anda. Hal itu dilakukan dengan memberikan respons yang memuaskan dan untuk memenuhi kebutuhan psikologis Anda pada masa kanak-kanak dengan konseling atau terapi mandiri.

Berbicara tentang inner child, kita semua memiliki sejarah sendiri yang dipengaruhi oleh lingkungan, peristiwa dan orang-orang penting di sekitar kita. Inner child akan menyimpan ingatan tersebut yang pada akhirnya berdampak pada diri Anda yang sekarang. Pada masa kanak-kanak, Anda akan membuat keputusan di tingkat bawah sadar mengenai bagaimana "seharusnya" Anda, dan apa yang "harus" Anda lakukan agar dipandang baik dan diizinkan untuk tetap di sekitar dan "bertahan" dalam keluarga. Dalam konsep self-reparenting yang menjadi bagian utama adalah bagaimana Anda menghubungi, memahami, merangkul dan menyembuhkan inner child dalam diri Anda. Ketika Anda "menyembuhkan" inner child dalam diri Anda, hal itu membantu Anda langsung ke inti permasalahan , Anda dapat mengetahui kapan masalah Anda dimulai sehingga dapat diatasi dengan efektif.

Terdapat beberapa hal yang dapat Anda lakukan untuk melakukan self-reparenting, antara lain:

a. Terhubung dengan inner child Anda, Anda dapat kembali mengingat masa kecil Anda lalu menuliskan daftar hal-hal yang membuat Anda senang ketika Anda kecil. Selanjutnya, Anda dapat mengidentifikasi tipe anak seperti apakah Anda di waktu kecil, misalnya anak yang terlantar, anak yang senang bermain-main atau anak yang penakut.
b. Tulislah surat kepada inner child Anda, yang isinya permintaan maaf apabila Anda menjalani kehidupan yang tidak menghormati inner child Anda. Kemudian bentuklah komitmen bahwa Anda akan membangun hubungan yang lebih kuat dengan inner child Anda pada kehidupan saat ini.
c. Perhatikan perasaan Anda, apa yang membuat Anda takut dan tidak aman, atau apa yang membuat Anda gembira.  
d. Setelah terhubung dengan inner child Anda, Anda bisa melanjutkannya dengan "mengasuh" inner child Anda dengan cara-cara berikut ini:
- Memberikan afirmasi seperti mengatakan dalam batin bahwa Anda adalah seorang yang...(isi dengan hal-hal yang positif). 
- Berbicara dengan sisi "adult" Anda untuk menyelesaikan masalah Anda
- Beri diri Anda hadiah harian
- Tidur minimal 8 jam
- Baca literatur dan kutipan yang menginspirasi
- Tulis dalam catatan harian daftar hal-hal yang harus dilakukan setiap hari
- Tetaplah di masa sekarang dengan melatih perhatian
- Pikirkan tentang kenangan indah
- Simpan 1 janji kecil setiap hari. Buatlah janji-janji kecil yang memang bisa Anda tepati, dan tidak lebih dari 10 menit setiap hari. Misalnya, membuat jurnal di malam hari setiap hari.
e. Berhati-hatilah dengan kritik batin Anda.
f. Beri tahu seseorang yang Anda percaya (selain orangtua Anda), bahwa Anda sedang memulai suatu proses. Hal itu akan memberikan dukungan untuk Anda.
g. Tanyakan pada diri Anda sendiri, " Apa yang bisa Anda berikan pada diri saya saat ini?" khususnya ketika Anda merasakan emosi yang kuat. Sebagai orang dewasa, Anda memiliki kesempatan untuk memberikan apa yang dibutuhkan oleh diri Anda sendiri.


Konsep ini sifatnya hanya dapat membantu Anda menganalisa diri sendiri, jika Anda masih merasa perlu untuk berkonsultasi dengan yang lebih ahli terkait permasalahan Anda. Saya sarankan Anda untuk tetap mengunjungi psikolog. Terima kasih.

Hasil gambar untuk self reparenting quotes

Daftar Pustaka

https://thriveglobal.com/stories/what-is-reparenting-and-why-you-should-consider-it/
https://ideapod.com/5-surprisingly-powerful-ways-to-heal-your-wounded-inner-child/
https://yourholisticpsychologist.com/what-is-reparenting-and-how-to-begin/

Sabtu, 27 Juli 2019

::: Learn to survive unresolved grief :::

Hasil gambar untuk unresolved conflict in grief quotes




Kesedihan adalah perasaan yang muncul ketika Anda menderita kehilangan dalam hidup (Harvey, 2007). Banyak teori yang menjelaskan tentang bagaimana menghadapi kesedihan terhadap kehilangan orang-orang yang dicintai atau orang yang begitu signifikan (secara positif) berpengaruh terhadap hidup Anda. Katakanlah, Anda mungkin mempunyai hubungan antar anggota keluarga yang harmonis atau bahkan cukup beruntung karena mengenal dengan baik sosok yang telah wafat tersebut. Akan tetapi, tidak semua orang menghadapi kehilangan anggota keluarga yang memang memiliki hubungan harmonis sebelumnya. Tidak semua orang memiliki hubungan yang harmonis dengan setiap anggota keluarga. Dalam hal ini, ada sisi kesedihan yang jarang dibahas secara umum yakni kesedihan terhadap kehilangan anggota keluarga yang memiliki konflik yang belum selesai dengan kita. Menurut saya, hal ini justru sangat penting karena jika Anda tidak mendapatkan kesempatan untuk resolusi atau rekonsiliasi konflik, maka akan berpengaruh terhadap pemenuhan kesadaran diri Anda. Bagaimana jika Anda pernah atau masih mengalami konflik (dalam bentuk apapun) selama bertahun-tahun dengan anggota keluarga yang sekarang telah wafat? Sehingga ketika Ia wafat, apakah segala macam emosi yang disebabkan dari konflik tersebut ikut "menghilang" atau justru terus menjadi bagian hidup Anda? 

Tidak salah jika Anda memiliki konflik. Namun, konflik tersebut harus diselesaikan. Memang sulit, karena disini Anda memiliki dua emosi yang berlawanan. Di satu sisi Anda merasa sedih karena kehilangan namun Anda juga masih merasa marah atau kecewa akibat konflik yang belum selesai. Selain itu, Anda juga tidak bisa menyelesaikan konflik tersebut secara langsung dengan orang yang bersangkutan. Konflik yang belum selesai hanya akan menghambat penyembuhan alami. Anda akan menghabiskan banyak waktu dan energi yang berlebih hanya untuk mencoba mengulang percakapan yang pernah ada, membuat pernyataan yang tidak pernah disuarakan, atau membayangkan reaksi yang tidak pernah diterima. Hal tersebut tentu menjadi beban jika tidak diselesaikan. 

Oleh karena itu, berikut beberapa cara refleksi diri yang dapat membantu Anda secara perlahan menyelesaikan konflik tersebut.

a. Anda dapat menanyakan pada diri Anda sendiri, pertanyaan-pertanyaan berikut sebagai
    bentuk refleksi diri.
- Bagaimana keterlibatan masa lalu saya dengan anggota keluarga tersebut sehingga
  menciptakan  rasa  sakit yang saya rasakan sekarang?
- Kapan kemarahan tersebut saya mulai?
- Emosi apalagi yang membuat saya marah?
- Apa yang mencegah saya melepaskan keluhan saya dari masa lalu?
- Bagian mana dari kemarahan yang ingin saya pertahankan dan mengapa?
- Bagaimana kerugian dari masa lalu saya, mengunci saya dalam perasaan marah yang
  berkelanjutan ini?
- Pertanyaan apa yang belum terjawab dari masa lalu yang terus mempengaruhi perasaan
  kemarahan saya (atau emosi lainnya)?

b. Tulislah surat yang ditujukan kepada anggota keluarga yang telah wafat tersebut. Tuliskan semua hal yang mungkin ingin Anda katakan kepadanya. Apa yang Anda ingin orang itu ketahui? Bagaimana orang itu menyakitimu? Apa yang kamu inginkan dari orang itu? Setelah itu, Anda dapat meminta bantuan orang yang Anda percaya untuk "mendengarkan" Anda membaca surat itu. Dukungan tanpa judgment atau penilaian dari orang yang Anda percaya tersebut dapat sangat membantu. Setelah membaca surat tersebut, buatlah pilihan secara sadar untuk melepaskan "emosi negatif" Anda. Anda dapat membakar surat tersebut dan membuangnya untuk merepresentasikan emosi negatif Anda yang ikut hilang.

c. Tulislah surat untuk diri Anda sendiri. Katakan pada diri sendiri mengapa Anda tidak lagi mau berpegang pada keluhan masa lalu? Alasan Anda merasa marah dan pahit serta mengapa Anda tidak mau lagi menyimpan perasaan itu? Tuliskan betapa menyenangkannya hidup Anda jika Anda tidak lagi menyimpan perasaan negatif tersebut. 

Setelah melakukan refleksi diri, Anda dapat sedikit demi sedikit mengatasi rasa sedih Anda atas kehilangan tersebut. Tidak ada cara yang "benar" untuk mengatasi rasa sedih karena kehilangan anggota keluarga. Namun berikut beberapa saran yang dapat Anda pertimbangkan untuk bisa melewati kesedihan tersebut.

a. Biarkan diri Anda berduka. Cobalah untuk mengingat bahwa berduka adalah suatu proses. Anda mungkin akan berduka dengan berbagai cara dan dalam waktu yang berbeda-beda. Dalam hal ini Anda mungkin merasa marah, kesal, mati rasa, tertekan dan cemas yang berlangsung intens. Hal tersebut normal tergantung dengan skala kerugiannya. Kesedihan adalah pengalaman individu yang unik dan orang-orang yang berbeda. Bahkan dalam keluarga yang sama, akan memproses kehilangan dan mengekspresikan emosi dengan cara yang berbeda dan pada waktu yang berbeda. 
b. Beri diri Anda waktu. Bersikaplah lembut terhadap diri sendiri. Biar bagaimanapun, kehilangan anggota keluarga itu sulit. Tidak ada batas waktu yang pasti untuk memproses kesedihan. Anda perlu mengakui dan merangkul emosi yang ada tanpa merasa bahwa Anda perlu "melupakan" emosi tersebut atau melanjutkannya. Ketika Anda merasa nyaman, Anda bisa meluangkan waktu untuk merenungkan masa lalu dan berpegang pada ingatan yang menyenangkan dengan anggota keluarga yang telah wafat tersebut. Beri diri Anda waktu untuk bersedih sebanyak yang dibutuhkan tanpa stress tambahan dari pekerjaan atau tuntutan hidup lainnya. 
c. Rencanakan hari-hari istimewa. Setelah kehilangan orang yang Anda cintai, Anda mungkin akan mengubah prioritas Anda, seperti menjadi lebih sadar akan pentingnya mendokumentasikan pertemuan dan tradisi keluarga. Anda mungkin juga memiliki apresiasi yang lebih dalam untuk hal-hal yang menciptakan tradisi keluarga.  Anda dapat membuat ritual baru pada hari-hari istimewa seperti hari ulangtahun atau hari peringatan untuk "menangkap" moment yang menggambarkan bagaimana Anda ingin menghormati orang tersebut pada hari-hari itu. 
d. Warisi sikap baik dari anggota keluarga yang wafat.
Walaupun kematian memisahkan Anda dengannya secara fisik, namun hubungan emosional akan terus ada melalui ingatan. Anda dapat mengingat kelebihan apa yang dimilikinya dan dampaknya pada kehidupan Anda dan orang lain. Dengan mewarisi sifat baiknya secara sengaja, untuk sekaligus menghormati mereka, hal itu dapat membantu Anda mengatasi proses dan penyembuhan dari kesedihan. Dalam hal ini, Anda dapat menanyakan pada diri Anda sendiri tentang karakter anggota keluarga Anda tersebut. Seperti misalnya "Karakter apa yang saya dapatkan darinya, yang ingin saya pertahankan? Karakter apa yang tidak saya dapatkan dan saya sesali? Karakter apa yang saya dapatkan namun ingin saya buang? Karakter apa yang saya butuhkan namun tidak bisa saya dapatkan?"
e. Ada banyak yang harus Anda lakukan. Jika ini adalah anggota keluarga pertama Anda yang wafat, Anda tidak hanya akan melalui proses kesedihan sendirian. Namun Anda juga akan melihat kesedihan anggota keluarga lain yang masih hidup. Mereka membutuhkan Anda untuk menghibur mereka dalam kesedihan mereka. Sekarang mungkin menjadi tanggungjawab Anda untuk menjaga anggota keluarga yang masih hidup. Bertanggungjawab atas tugas-tugas yang sebelumnya dilakukan oleh orang yang meninggal dapat menjadi sesuatu yang menakutkan, baik secara fisik maupun emosional.
f. Cari Dukungan. Bicaralah dengan teman dekat. Tidak seorangpun harus sendirian selama masa berduka. Bersosialisasi membantu Anda memperoleh bantuan untuk mengatasi perasaan sedih Anda. Anda juga dapat bergabung dengan orang lain yang juga sedang berduka seperti Anda. Terhubung dengan anggota keluarga lain yang juga sedang berduka dapat membantu Anda merasa tidak sendirian.
g. Ingat kenangan tentang anggota keluarga Anda. Mereka akan menjadi bagian besar dari hidup Anda tidak perduli apapun, bahkan ketika mereka sudah meninggal. Tuliskan ingatan Anda bersama mereka. Anda hanya perlu tahu bahwa mereka tidak akan pernah meninggalkan tempat itu di hati Anda. Nikmati kenyamanan dalam ingatan yang Anda miliki tentang mereka tanpa terobsesi bahwa Anda perlu mengingat detailnya. 

Beberapa cara diatas hanya alternatif untuk Anda coba. Namun jika yang Anda alami adalah kesedihan yang lebih hebat lagi bahkan hingga menyebabkan depresi dan mengganggu kehidupan/kesedihan berkepanjangan (unresolved grief), Anda perlu berkonsultasi segera ke psikolog. Sekian dari yang bisa saya paparkan, semoga membantu dan sampai jumpa di pembahasan psikologi lainnya. Terima kasih :)


Daftar Pustaka 

Picture:

https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEikn6__4AcTuZ1x3LA11FNMBZQKwhGbaVmx5NOcq3OoriF8HG_m9Z91YbSsv4LvdARCQeph-E5IV_HeYnxNbWlcuu54nNr3h8PScEmhpAYE6G8JNZ1yANJxTCkIDl2qXHJL9QzQ6HjiYOCU/s1600/woman-tear-smile.jpg
https://www.google.com/url?sa=i&source=images&cd=&ved=2ahUKEwjRnI2Oh9XjAhV67nMBHcSCBmMQjRx6BAgBEAU&url=https%3A%2F%2Fideas.hallmark.com%2Farticles%2Fsympathy-ideas%2Fcomforting-grief-quotes%2F&psig=AOvVaw1KyjZmZCVhV3HUj_ucOZDC&ust=1564315341655017

Sabtu, 18 Mei 2019

::: Dysfunctional Family: Let them deal with what they have created :::


Hasil gambar untuk dysfunctional family toxic family quotes
Keluarga sudah menjadi objek yang menarik bagi setiap pembahasan dalam berbagai ilmu, seperti pedagogi, sosiologi dan psikologi. Secara umum, semuanya bertujuan untuk dapat mengidentifikasi sejauh apa peran keluarga mempengaruhi perkembangan fisik, mental dan sosial dari individu.  Hal ini karena keluarga adalah lingkungan dasar dan alami bagi perkembangan manusia. Namun bagaimana apabila keluarga justru berkembang menjadi sesuatu yang bersifat toxic? Oleh karena itu, penting bagi kita untuk mengetahui sejauh apa peran keluarga bagi individu khususnya bagi mereka yang tumbuh dalam keluarga yang bersifat toxic sehingga berkembang menjadi keluarga yang tidak berfungsi/disfungsional.

Ketika Anda memiliki masalah, pernahkah Anda menyalahkan keluarga Anda sendiri atau salah satu dari anggota keluarga Anda? Seperti misalnya berpikir bahwa mengapa keluarga saya seperti ini, seperti itu? Jika keluarga saya tidak begini, seharusnya saya seperti itu. Atau berpikir bahwa saya tidak akan seperti ini jika keluarga saya tidak seperti itu...

Ya, banyak dari kita yang cenderung menganggap keluarga adalah penyebab dari masalah kita sendiri, bahkan membuat kita merasa "lepas" tanggung jawab terhadap masalah yang sedang kita hadapi. Mungkin sebagian benar bahwa ada beberapa faktor dari keluarga yang menyebabkan sesuatu terjadi, dimana keluarga berubah menjadi tidak berfungsi dengan baik. Akan tetapi, bagaimana Anda tahu bahwa  efek dari keluarga disfungsi tersebut menjadi masalah yang serius bagi hidup Anda. Oleh karena itu, mari kita sedikit membahas tentang Dysfunctional Family (DF) serta pengaruhnya bagi Anda yang memang tumbuh dalam keluarga tersebut. Hal ini karena banyak dari mereka yang selama bertahun-tahun tidak memahami mengapa keluarganya tidak berfungsi tanpa tahu ada sesuatu yang salah di dalamnya.

Sebelum membahas lebih jauh tentang DF, berikut alasan mengapa keluarga menjadi pondasi yang penting bagi individu. Menurut Minkiewicz (2003) keluarga merupakan unit dasar dari masyarakat, yang menjembatani antara individu dengan masyarakat. Keluarga memainkan peran besar dalam membentuk kepribadian dan sikap yang secara tidak langsung menunjukkan kesiapan mental individu untuk mendengarkan dan belajar tentang pengetahuan dan perilaku yang benar. Sehingga penting bagi Anda untuk mengetahui perbedaan antara keluarga yang "sehat" dengan yang "tidak sehat". Dalam keluarga yang sehat, bukan berarti tidak memiliki konflik sama sekali dalam keluarga. Akan tetapi konflik tersebut tidak setiap saat. Pengekspresian emosi masih dapat diizinkan dan diterima, anggota keluarga pun masih bisa meminta dan menerima perhatian. Aturan keluarga dibuat secara eksplisit dan konsisten namun tetap fleksibel untuk beradaptasi dalam kebutuhan setiap anggota keluarga. Anak-anak pun tidak takut secara emosional, tidak ada kekerasan fisik, verbal maupun seksual. Orangtua pun dapat diandalkan sehingga anak-anak tidak perlu mengambil tanggung jawab yang seharusnya dilakukan orangtua.

Menurut kamus medis, DF dipahami sebagai keluarga dengan banyak masalah internal, seperti persaingan saudara kandung, konflik orangtua-anak, KDRT, penyakit mental, orangtua tunggal; serta masalah eksternal seperti penyalahgunaan alkohol dan narkoba, hubungan di luar pernikahan, perjudian dan pengangguran. Intinya masalah yang mempengaruhi kebutuhan dasar keluarga. Akan tetapi, yang membedakan disini adalah pada keluarga yang "sehat", mereka akan kembali ke fungsi normal setelah melalui krisis tersebut. Namun pada keluarga yang "tidak sehat" atau disfungsi, masalah justru akan semakin kronis. Efeknya terlihat pada anak-anak di keluarga tersebut yang cenderung tidak bisa mendapatkan kebutuhan mereka dalam keluarga serta perilaku orangtua mereka yang negatif secara dominan mempengaruhi kehidupan mereka. Sementara menurut Wills-Brandon (1996), istilah disfungsi pada keluarga mengarah pada rasa frustasi anggota keluarga terhadap kebutuhan dasar mereka, adanya pelanggaran besar terhadap hak pribadi, hilangnya tanggung jawab dan adanya invasi dan perampasan pada batas individu. 

Salah satu faktor yang cukup berpengaruh dalam perkembangan suatu keluarga berubah menjadi disfungsional, adalah peran orangtua di dalam keluarga tersebut. Karena biar bagaimanapun, orangtua adalah satu-satunya orang dewasa yang berperan mengendalikan arah sehat atau tidaknya keluarga tersebut. Dalam hal ini, terdapat beberapa tipe orangtua yang dapat menyebabkan sebuah keluarga menjadi disfungsional.

Deficient Parents
Bagi mereka yang memiliki orangtua dengan penyakit jiwa, orangtua tersebut tidak dapat berfungsi secara maksimal dalam keluarga. Hal ini tentu menyebabkan anaknya mau tidak mau "mengambil" tanggung jawab orang dewasa. Dalam hal ini, kebutuhan emosional orangtuanya yang justru didahulukan sehingga anak akan  belajar mengabaikan kebutuhan emosional mereka sendiri. Anak yang "terpaksa" menjalankan peran orang dewasa, akan merasa tidak memadai dan merasa bersalah. Hal ini dapat berlanjut hingga ketika menjadi dewasa mereka akan cenderung depresi. Selain itu, adanya masalah medis pada anggota keluarga secara tidak langsung dapat menjadikan orangtua tergolong sebagai deficient parent. Misalnya jika ada salah satu anggota keluarga yang sakit parah, biasanya mereka akan fokus pada anggota keluarga tsb, sehingga anggota keluarga lainnya terabaikan.

Controlling Parents
Berbeda dari tipe orangtua sebelumnya, orangtua tipe ini justru mengambil alih semua keputusan anak-anak mereka bahkan jauh melebihi batas usia seharusnya. Pada dasarnya pola asuh seperti ini didorong dari rasa khawatir orangtua bahwa diri mereka akan ditinggalkan saat anak mereka dewasa dan mandiri. Akan tetapi, efeknya terhadap anak, Ia akan menjadi sulit mengambil keputusan saat mandiri, merasa tidak mampu dan tidak berdaya.

Alcoholic Parents
Keluarga dengan tipe orangtua seperti ini cenderung kacau dan tidak dapat diprediksi. Orangtua kadang bersikap acuh tak acuh, pengekspresian emosi yang tidak diizinkan, dan biasanya mereka cenderung merahasikan masalah dari orang luar, Hal ini dapat menyebabkan anak merasa tidak aman, frustasi dan marah. Sehingga anak tumbuh menjadi tidak percaya dengan orang lain, sulit mengekspresikan emosi dan kesulitan menjalin hubungan sampai dewasa.

Abusive Parents
Orangtua yang melakukan tindakan pelecehan disini bisa dalam bentuk verbal, fisik maupun seksual. Pelecehan verbal bisa dalam bentuk frontal seperti kritik atau pun halus seperti humor, namun keduanya tetap bersifat merusak. Sementara untuk  fisik, seringkali orangtua menganggapnya sebagai tindakan disiplin, namun kenyataannya hal itu hanya untuk memenuhi kebutuhan emosional orangtua semata dan tidak ada hubungannya dengan kepeduliannya terhadap anak. Efeknya justru akan menjadikan teror bagi anak tersebut, mereka tidak akan mampu mengembangkan perasaan aman bahkan hingga anak tersebut dewasa. Pelecehen seksual pada anak, umumnya berupa kontak fisik antara anak dan orang dewasa dimana kontak tersebut bersifat "rahasia". Demonstrasi bentuk kasih sayang seperti memeluk, mencium atau membelai rambut anak yang dilakukan secara terbuka cukup dapat diterima. Namun jika ada tindakan yang dilakukan dengan "rahasia", besar kemungkinan tindakan tersebut adalah tindakan tidak pantas. Akibatnya, anak akan tumbuh dengan membawa perasaan membenci diri sendiri, malu dan tidak berharga.


Faktor lainnya yang menjadi penyebab berkembangnya  keluarga menjadi disfungsi adalah adanya kekerasan dalam keluarga atau biasa disebut KDRT. Menurut Mellibruda (2005), kekerasan dalam keluarga meliputi setiap tindakan atau kelalaian yang dilakukan dalam keluarga oleh salah satu anggotanya terhadap yang lain dengan menggunakan atau menciptakan kondisi berdasarkan kekuatan atau otoritas yang berdampak negatif terhadap hak atau barang pribadi khususnya kehidupan dan kesehatan fisik atau mental. Dalam hal ini, KDRT mempengaruhi gangguan psikologis terutama pada anak dalam suatu keluarga seperti keterbelakangan mental dan fisik, masalah sosialisasi pada anak sehingga terjadi masalah di sekolah. Bakan pada kasus yang lebih tragis menyebabkan cedera fisik dan kematian. 


Kemiskinan juga menjadi salah satu penyebab keluarga menjadi disfungsi. Konsep kemiskinan disini tidak hanya terpaku pada kekurangan materi namun lebih pada pengaruhnya terhadap kegiatan  yang membantu membuat keputusan di masa depan, Kondisi kemiskinan mempengaruhi suasana pola asuh orang tua yang serba tidak puas akan kebutuhan biologis maupun psikologisnya. Anak yang dibesarkan dalam kemiskinan cenderung mengalami kemunduran dalam perkembangan, memiliki emosi yang negatif, dan cenderung menjauhkan diri dari kehidupan sosial karena mereka merasa malu berada dalam kemiskinan. Hal ini membuat anak terus menerus tumbuh dalam keyakinan bahwa dirinya lebih buruk dari anak lainnya  Intinya, kemiskinan secara tidak langsung berkontribusi membuat keluarga menjadi disfungsi khususnya dalam pendidikan yang lama kelamaan mengarah pada stigmatisasi. Marzec (2001) menambahkan bahwa kemiskinan menjadi fenomena umum yang mempengaruhi anggota keluarga mengalami depresi, berkurangnya motivasi dan aktivitas serta menurunnya nilai norma-norma moral bahkan dapat berkembang menjadi perilaku yang bersifat patologis. 


Dari berbagai penjelasan diatas, katakan lah Anda mungkin sudah mengetahui kira-kira apa yang menyebabkan keluarga Anda menjadi disfungsi selama ini dan bagaimana hal tersebut mempengaruhi hidup dan perilaku Anda selama ini. Congratulations!! Anda sedang dalam perjalanan menuju penyembuhan dan pertumbuhan pribadi :) 
Namun tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini Anda mungkin masih berhadapan dengan bagaimana Anda berurusan dengan keluarga toxic Anda dan biar bagaimanapun mereka adalah bagian penting dari hidup Anda. Tetap saja Anda membutuhkan cara untuk menghentikan rasa sakit yang ditimbulkan dari mereka. Anda perlu mengetahui cara melindungi diri sendiri dan menghentikan pengaruh negatif yang telah ditimpakan pada Anda di masa lalu dan berujung hingga masa kini. Tidak banyak yang bisa saya bantu dalam hal ini, hanya sekadar memandu Anda untuk beralih dari masa lalu Anda yang "tidak berfungsi".

1. Pertimbangkan kembali definisi keluarga bagi Anda
Hal ini sangat sederhana, dapat dilakukan di usia remaja sampai bagi Anda yang dewasa sekalipun. Semua berawal dari mindset kita, apabila kenyataannya definisi keluarga yang Anda harapkan selama ini tidak sejalan maka tandanya Anda perlu merubahnya menjadi sesuatu yang lebih realistis. Ada banyak definisi keluarga yang dapat Anda "rangkai" kembali, hanya tinggal menyesuaikan dengan apa yang Anda miliki dalam keluarga Anda. Anda cukup mengambil semua hal positif, bahkan sekecil apapun kelebihan yang ada pada keluarga Anda untuk kemudian Anda jadikan "standar" definisi keluarga Anda. Dalam hal ini kemampuan yang perlu Anda miliki hanya menganalisa kondisi keluarga Anda. Setelah itu, tanamkan kuat-kuat definisi tersebut dalam diri Anda. Definisi tersebut dapat membantu Anda untuk menyeimbangkan kembali konsep pemahaman Anda terhadap keluarga Anda sendiri.

2. Apresiasi kualitas yang baik dalam diri Anda
Dari segala hal yang terjadi, Anda dapat bertahan sampai sekarang, maka hargailah diri Anda.
Bila perlu list kembali pencapaian-pencapaian Anda selama ini. Hal itu dapat menjadi "obat" ketika Anda merasa putus asa.

3. Biarkan diri Anda merasa marah dengan apa yang terjadi
Langkah ini dapat anda lakukan untuk dapat mulai memaafkan. Jika orangtua Anda adalah tipe yang masih memungkinkan untuk mendengarkan, Anda dapat membicarakan perasaan marah Anda dengan tujuan mendorong perubahan positif bukan untuk menyakiti. Namun apabila benar-benar tidak memungkinkan, Anda cukup menuliskan surat berisi kemarahan Anda lalu membakarnya. Ingat, ini salah satu langkah pemulihan Anda. Jangan tekan amarah Anda.

4. Batasi informasi yang Anda bagikan
Hal ini dapat Anda lakukan apabila Anda memilih untuk tetap melihat dan menghabiskan waktu dengan keluarga toxic Anda. Anda akan secara emosional lebih aman, karena tidak banyak informasi yang dapat berpotensi "menyerang" Anda. Cobalah untuk menjaga percakapan lebih umum dan dangkal, hal itu akan lebih aman bagi Anda.

5. Sadarilah bahwa tidak semua orang bisa dan mau berubah
Pada umumnya, kebanyakan orang akan sulit untuk mengakui kesalahan sendiri (mungkin termasuk diri kita sendiri). Bahkan lebih banyak justru balik menjadi agresif ketika mereka dihadapkan dengan kesalahan tersebut. Oleh karena itu, akan lebih baik bila Anda juga dengan cepat menyadari bahwa tidak semua orang dapat berubah dan mau berubah karena hal itu akan melukai ego mereka sendiri. Namun, Anda masih dapat merubah diri Anda sendiri dengan cara merubah respon Anda terhadap perilaku toxic mereka. 

6. Jangan menyalahkan perilaku buruk Anda pada masa kecil Anda
Anda sebagai orang dewasa yang bertanggung jawab pada perilaku Anda sekarang, bukan perilaku orangtua Anda. Anda mungkin merasa pahit, kecewa dan marah namun sikap Anda tidak harus memproyeksikan hal itu. Apa yang terjadi pada masa kecil Anda memang bukan pilihan Anda, tapi apa yang terjadi sekarang adalah pilihan Anda. 


Demikian sedikit pembahasan mengenai dysfunctional family kali ini. Mungkin memang tidak dalam namun disini saya mencoba agar Anda dapat sedikit memahami keluarga Anda dengan perspektif psikologi. Semoga dapat membantu bagi Anda, karena sedikit saja Anda berniat memahami, percayalah itu merupakan salah satu langkah untuk pemulihan diri. Sekian dan terima kasih.




Daftar Pustaka

https://www.betterhelp.com/advice/family/dysfunctional-family-what-it-is-and-what-its-like-to-grow-up-in-one/
https://static1.squarespace.com/static/57ec3df6f5e231ada41bb9cc/t/57ed53a537c58182f816d1cc/1475171237566/Dysfunctional+Families.pdf

Kopsztjn, Maria.(2015) Family and Its Problems. file:///C:/Users/ASUS/Downloads/ZN_Ped_2015_10_Kopsztejn_Maria.pdf

Marzec, H. (2001). Dziecko w rodzinie z ubóstwem materialnym. Łowicz. 

Mellibruda, J. (2005). Charakterystyka zjawiska przemocy w rodzinie. W: Przewodnik do realizacji ustawy z dnia 29 lipca 2005 roku o przeciwdziałaniu przemocy w rodzinie. Pobrano z lokalizacji: www.niebieskalinia.pl.

Minkiewicz, A. (red.) (2003). Patologia społeczna wśród młodzieży. Stan, metody analizy i sposoby przeciwdziałania. Warszawa

Wills-Brandon, C. (1996). Jak mówić nie i budować udane związki. Gdańsk


:::: Finish your unfinished business: How to leave it behind you :::

Sometimes a memory acts like a ball and chain and holds us back - because we relive it over and over again....      Pernah tidak merasa emos...